Friday, 14 September 2012

Pengertian Ihsan

Posted by ITTILA' On 05:21



Ihsan itu ialah bahawa “kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya,tetapi jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat kamu.”
Ihsan juga adalah melakukan ibadah dengan khusyuk,ikhlas dan yakin bahwa Allah senantiasa mengawasi apa yang dilakukannya.
Hadist riwayat muslim”dari Umar bin Khatab ia berkata bahwa mengabdikan diri kepada Allah hendaklah dengan perasaan seolah-olah anga melihat-Nya,maka hendaklah anda merasa bahwa Allah melihatmu.”
Ihsan  ( ناسحI ) adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti “kesempurnaan” atau “terbaik.” Dalam terminologi agama Islam, Ihsan berarti seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.
Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu Iman,Islam, dan Ihsan. Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari akidah dan bagian
terbesar dari keislamannya.
Lalu bagaimana caranya? Dalam mengejawantahkan ihsan bagi mahluk sosial seperti manusia, khususnya kaum muslim ialah dengan cara berbuat baik. Karena dengan pemahaman ihsan ini kita merasa selalu diawasi oleh Allah Yang Maha Melihat, dengan begitu kita tidak akan mau melakukan perbuatan buruk, kalaupun sampai terbersit maka tetap saja kita tidak akan mau mengerjakannya disebabkan Ihsan tadi. Selain berbuat baik Ihsan juga merupakan salah satu cara agar kita bisa khusyuk dalam beribadah kepada Allah. Kita beribadah seolah-olah kita melihat Allah. Jika tidak bisa, kita harus yakin bahwa Allah SWT yang Maha Melihat selalu melihat kita.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS.Qaaf : 16-18)
“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”(QS.Al Fajr : 14)
Orang yang ihsannya kuat akan rajin berbuat kebaikan karena dia berusaha membuat senang Allah yang selalu melihatnya. Sebaliknya dia malu berbuat kejahatan karena dia selalu yakin Allah melihat perbuatannya.
“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS.Al-Baqarah:284).
Dalam Al-Qur`an, terdapat 166 ayat yang berbicara tentang ihsan dan implementasinya. Dari sini kita dapat menarik satu makna, betapa mulia dan agungnya perilaku dan sifat ini, hingga mendapat porsi yang sangat istimewa dalam Al-Qur`an. Rasulullah pun sangat memberi perhatian terhadap masalah ihsan ini. Sebab, ia merupakan puncak harapan dan perjuangan seorang hamba. Puncak semua pengajaran yang dilakukan Rasul pun mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia. Bahkan, di antara hadist-hadist mengenai ihsan tersebut, ada beberapa yang menjadi landasan utama dalam memahami agama ini. Rasulullah saw. menerangkan mengenai ihsan ketika ia menjawab pertanyaan Malaikat Jibril tentang ihsan dimana jawaban tersebut dibenarkan oleh Jibril, dengan mengatakan, “Engkau menyembah Allah seakan- akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka
sesungguhnya Dia melihatmu.”(HR. Muslim )
Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah swt. Sebab, ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat di mata Allah swt.
Di kesempatan yang lain, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kebaikan pada segala sesuatu, maka jika kamu membunuh, bunuhlah dengan baik, dan jika kamu menyembelih, sembelihlah dengan baik.”(HR. Muslim )
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat ihsan, serta memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”(An-Nahl: 90 )
Tiga Aspek Pokok Dalam Ihsan
Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental. Ketiga hal tersebut adalah ibadah, muamalah, dan akhlak. Ketiga hal inilah yang menjadi pokok bahasan dalam ihsan.
1.      Ibadah
Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dengan cara yang benar, yaitu menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Hal ini tidak akan mungkin dapat ditunaikan oleh seorang hamba, kecuali jika saat pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut ia dipenuhi dengan cita rasa yang sangat kuat (menikmatinya), juga dengan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh-Nya. Minimal seorang hamba merasakan bahwa Allah senantiasa memantaunya, karena dengan inilah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan sempurna, sehingga hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan. Inilah maksud dari perkataan Rasulullah saw yang berbunyi,
“Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Kini jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari ibadah itu sendiri sangatlah luas. Maka, selain jenis ibadah yang kita sebutkan tadi, yang tidak kalah pentingnya adalah juga jenis ibadah lainnya seperti jihad, hormat terhadap mukmin, mendidik anak, menyenangkan isteri, meniatkan setiap yangmubah untuk mendapat ridha Allah, dan masih banyak lagi. Oleh karena itulah, Rasulullah saw. menghendaki umatnya senantiasa dalam keadaan seperti itu, yaitu senantiasa sadar jika ia ingin mewujudkan ihsan dalam ibadahnya.
2. Muamalah
Dalam bab muamalah, ihsan dijelaskan Allah swt. pada surah An-Nisaa’ ayat 36, yang     berbunyi sebagai berikut, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun     dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.”
Kita sebelumnya telah membahas bahwa ihsan adalah beribadah kepada Allah dengan sikap seakan-akan kita melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka Allah melihat kita. Kini, kita akan membahas ihsan dari muamalah dan siapa saja yang masuk dalam bahasannya. Berikut ini adalah mereka yang berhak mendapatkan ihsan tersebut:
a. ihsan kepada kedua orang tua
b. ihsan kepada karib kerabat
c. ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin
d. ihsan kepada tetangga dekat, tetangga jauh, serta teman sejawat
e. ihsan kepada ibnu sabil dan hamba sahaya
f. ihsan dengan perlakuan dan ucapan yang baik kepada manusia
g. ihsan dalam hal muamalah
h. ihsan dengan berlaku baik kepada binatang
3. Akhlak
Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaknya apabila ia telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan Rasulullah dalam hadits yang telah dikemukakan di awal tulisan ini, yaitu menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita. Jika hal ini telah dicapai oleh seorang hamba, maka sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah. Pada akhirnya, ia akan berbuah menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan dalam ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya.
Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada diri seseorang —yang diperoleh dari hasil maksimal ibadahnya– maka kita akan menemukannya dalam muamalah kehidupannya. Bagaimana ia bermuamalah dengan sesama manusia, lingkungannya, pekerjaannya, keluarganya, dan bahkan terhadap dirinya sendiri. Berdasarkan ini semua, maka Rasulullah saw. mengatakan dalam sebuah hadits, “Aku diutus hanyalah demi menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Ciri-ciri Kelebihan Ihsan :
-  Mentaati perintah dan larangan Allah SWT dengan ikhlas
-  Senantiasa amanah ,jujur dan menepati janji
-  Merasakan nikmat dan haus akan ibadah
-  Mewujudkan keharmonisan masyarakat
-  Mendapat ganjaran pahala dari Allah SWT.
Cara Penghayatan Ihsan Dalam kehidupan :
-  Menyembah dan beribadah kepada Allah
-  Memelihara kesucian aqidah tidak terbatal
-  Mengerjakan ibadah fardhu ain dan sunat
-  Hubungan baik dengan keluarga,tetangga dan masyarakat
-  Melakukan perkara-perkara yang baik
-  Mengamalkan sifat-sifat mahmudah
-  Bersyukur atas nikmat Allah SWT.
Kesimpulannya, ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak. Oleh karena itu, semua orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapapun kita, apapun profesi kita, di mata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ketingkat ihsan dalam seluruh sisi dan nilai hidupnya. Semoga kita semua dapat mencapai hal ini, sebelum Allah swt. mengambil ruh ini dari kita.

Pengertian Ihsan

Posted by ITTILA' On 05:20



Nabi Muhammad tlh menjelaskan tentang pengertian ihsan di dlm 1 hadis yg pnjang yg tlh diriwayatkan oleh Umar Al-Khattab:

قال فأخرين عن الإحسان قال : أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه براك.

Maksudnya: Jibril a.s. bertanya kpd Rasulullah ttg penertian Ihsan, Nabi menjawab: ihsan itu ialah kamu beribadat kpd Allah seolah-olah kamu melihat Allah & kalau kamu tidak melihat Allah, sesungguhnya Allah melihat segala perbuatan kamu (riwayat Muslim).

Nabi Muhammad juga tlh menjelaskan pengertian Ihsan di dalam 1 hadis lain yg diriwayatkan oleh Syaddad Bin Aus r.a.:

إن الله كتب الإحسان على كل شئ، فإذ قتلتم فأحسنوا القتلة، فإذا ذبحتم فأحسنو الذبحة، وليحد أحدكم شفرته، وليرح ذبيحته.

Maksudnya: Sesungguhnya Allah telah mewajibkan Ihsan kpd semua perkara. Jika kamu berperang menentang musuh elokkan cara peperangan kamu. Jika kamu sembelih binatang, elokkan cara sembelihan kamu, rehatkan ia dan tajamkan pisau sembelihan kamu (Riwayat Imam Muslim).

Syeikh Salih Ahmad Redha (1990), menerangkan maksud ihsan yg boleh disimpulkan dari ekdua-dua hadis di atas ialah:
Melakukan ibadat dengan khusyuk, ikhlas & yakin bahawa Allah sentiasa mengawasi apa yang kita lakukan.

Melakukan ibadat dengan teratur, tekun dan sempurna;
Sentiasa mengingati Allah & memuji-Nya kerana Allah sentiasa mengawasi gerak-geri kita;

Sentiasa melakukan kebaikan & ihsan kepada jiran tetangga;
Ihsan kepada kedua ibu bapa  dengan menghormati kedua-duanya;
Ihsan kepada anak2 dengan memberikan pendidikan agama sebaik-baiknya;

Ihsan kepada isteri dengan melayaninya dengan baik;
Ihsan kepada manusia dengan melakukan kebaikan serta mencegah kemungkaran; dan Ihsan kepada binatang, alam sekitar dan dunia.

Pengertian Iman

Posted by ITTILA' On 05:17


Makna Iman
  • Definisi Iman
Menurut bahasa iman bererti pembenaran hati. Sedangkan menurut istilah, iman adalah:
تَصْدِيْقٌ بِاْلقَلْبِ، وَإِقْرَارٌ بِاللِّسَانِ، وَعَمَلٌ بِاْلأَرْكَانِ.
“Membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan.”
Ini adalah pendapat jumhur. Dan Imam Syafi’i meriwayatkan ijma’ para sahabat, tabi’in dan orang-orang sesudah mereka yang sezaman dengan beliau atas pengertian tersebut.
Penjelasan Definisi Iman
“Membenarkan dengan hati” maksudnya menerima segala apa yang dibawa oleh Rasulullah saw.
“Mengikrarkan dengan lisan” maksudnya, mengucapkan dua kalimah syahadat, syahadat “Laa ilaha illallahu wa anna Muhammadan Rasulullah” (Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah dan bahawa Muhammad صلى الله عليه و سلم adalah utusan Allah)
“Mengamalkan dengan anggota badan” maksudnya, hati mengamalkan dalam bentuk keyakinan, sedang anggota badan mengamalkannya dalam bentuk ibadah-ibadah sesuai dengan fungsinya.
Kaum salaf menjadikan amal termasuk dalam pengertian iman. Dengan demikian iman itu boleh bertambah dan berkurang seiring dengan bertambah dan berkurangnya amal soleh.
Dalil-dalil Para Salaf
Para salaf bersandar kepada pelbagai dalil, diantaranya adalah:
  • Firman Allah swt:
“Dan tiada kami jadikan penjaga Neraka itu melainkan dari malai-kat; dan tidaklah kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cubaan orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mukmin tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (menyatakan), ‘Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” (Al-Muddatstsir: 31).
  • Firman Allah swt :
    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gementarlah hati mereka, dan apabila di-bacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (kerananya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (iaitu) orang-orang yang mendirikan solat dan yang menafkahkan se-bagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.” (Al-Anfal: 2-4).

  • Sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata bahawasanya Rasulullah saw.  bersabda:
“Iman itu tujuh puluh cabang lebih atau enam puluh cabang lebih yang paling utama adalah ucapan “la ilaha illallahu” dan yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan (kotoran) dari tengah jalan, sedang rasa malu itu (juga) salah satu cabang dari iman.” (HR. Muslim, 1/63).
  • Sabda Rasulullah saw.  , riwayat Abu Sa’id Al-Khudry, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw.  bersabda:
“Siapa yang melihat kemungkaran di antara kalian, maka hen-
daklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika ia tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, 1/69).
Bagaimana Dalil-dalil Tersebut Menunjukkan bahawa Iman Dapat Bertambah dan Berkurang
Dalil Pertama:
Di dalamnya terdapat penetapan bertambahnya iman orang-orang mukmin, iaitu dengan persaksian mereka akan kebenaran nabinya berupa terbuktinya khabar beritanya sebagaimana yang tersebut dalam kitab-kitab samawi sebelumnya.
Dalil kedua:
Di dalamnya terdapat penetapan bertambahnya iman dengan mendengarkan ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang disifati oleh Allah, iaitu mereka yang jika disebut nama Allah tergeraklah rasa takut mereka sehingga mengharuskan mereka menjalankan perintah dan menjauhi larangannya. Mereka itulah orang-orang yang bertawakkal kepada Allah. Mereka tidak mengharapkan selainNya, tidak menuju kecuali kepadaNya dan tidak mengadukan hajatnya kecuali kepada-Nya. Mereka itu orang-orang yang memiliki sifat selalu melaksanakan amal ibadah yang di syariatkan seperti solat, puasa dan zakat. Mereka adalah orang-orang yang benar-benar beriman, dengan tercapainya hal-hal tersebut baik dalam i’tiqad mahupun amal perbuatan.
Dalil ketiga:
Hadith ini menjelaskan bahawa iman itu terdiri dari cabang-cabang yang bermacam-macam, dan setiap cabang adalah bahagian dari iman yang keutamaannya berbeza-beza, yang paling tinggi dan paling utama adalah ucapan “la ilaha illallah” kemudian cabang-cabang sesudahnya secara berurutan dalam nilai dan fadhilah-nya sampai pada cabang yang terakhir iaitu menyingkirkan rintangan dan gangguan dari tengah jalan. Adapun cabang-cabang antara keduanya adalah solat, zakat, puasa, haji dan amalan-amalan hati seperti malu, tawakkal, khasyyah (takut kepada Allah) dan sebagainya, yang kesemuanya itu dinamakan iman.
Di antara cabang-cabang ini ada yang berupaya membuat lenyapnya iman apabila ia ditinggalkan, menurut ijma’ ulama; seperti dua kalimat syahadat. Ada pula yang tidak sampai menghilangkan iman menurut ijma’ ulama apabila ia ditinggalkan; seperti menyingkirkan rintangan dan gangguan dari jalan.
Seiring dengan pengamalan cabang-cabang iman itu, baik dari segi kuantiti mahupun kualitinya, maka iman boleh bertambah dan boleh berkurang.
Dalil keempat:
Hadith Muslim ini menuturkan tingkatan-tingkatan nahi munkar dan keberadaannya sebagai bahagian dari iman. Ia menafikan (meniadakan) iman dari seseorang yang tidak mahu melakukan tingkatan terendah dari tingkatan nahi munkar iaitu mengubah kemungkaran dengan hati. Sebagaimana disebutkan dalam sebagian riwayat Hadith:
“Dan tidak ada sesudahnya sebiji sawi pun dari iman.” (HR. Muslim, Kitab Al-Iman, Bab Bayanu Kurhin Nahyi Anil Mungkar).
Berdasarkan hal ini maka tingkatan di atasnya adalah lebih kuat keimanannya.

Pengertian Iman

Posted by ITTILA' On 05:15


Pengertian iman dari bahasa Arab yang artinya percaya. Sedangkan menurut istilah, pengertian iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan). Dengan demikian, pengertian iman kepada Allah adalah membenarkan dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaanNya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata.

Jadi, seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin (orang yang beriman) sempurna apabila memenuhi ketiga unsur keimanan di atas. Apabila seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, ketiga unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.

Beriman kepada Allah adalah kebutuhan yang sangat mendasar bagi seseorang. Allah memerintahkan agar ummat manusia beriman kepada-Nya, sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman. Tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Qur’an) yang diturunkan kepada RasulNya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat sangat jauh.” (Q.S. An Nisa : 136)

Ayat di atas memberikan penjelasan bahwa Bila kita ingkar kepada Allah, maka akan mengalami kesesatan yang nyata. Orang yang sesat tidak akan merasakan kebahagiaan dalam hidup. Oleh karena itu, beriman kepada Allah sesungguhnya adalah untuk kebaikan manusia.

Iman Kepada Malaikat

Salah satu makhluk Allah swt. yang diciptakan di alam ini adalah malaikat. Dia bersifat gaib bagi manusia, karena tidak dapat dilihat ataupun disentuh dengan panca indra manusia.

Sebagai muslim kita diwajibkan beriman kepada malaikat. Iman kepada malaikat tersebut termasuk rukun iman yang kedua. Apa yang dimaksud iman kepada malaikat? Iman kepada malaikat berarti meyakini dan membenarkan dengan sepenuh hati bahwa Allah telah menciptakan malaikat yang diutus untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu dari Allah.

Dasar yang menjelaskan adanya makhluk malaikat tercantum dalam ayat berikut ini yang artinya:

“Segala puji bagi Allah pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat.” (Q.S. Fatir: 1)

Hal tersebut juga dijelaskan dalam hadits riwayat Muslim tentang iman dan rukunnya. Dari Abdullah bin Umar, ketika diminta untuk menjelaskan iman, Rasulullah bersabda,“iman itu engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya dan hari akhir serta beriman kepada ketentuan (takdir) yang baik maupun yang buruk.”

Dalam hadits tersebut, percaya kepada malaikat merupakan unsur kedua keimanan dalam Islam. Percaya kepada malaikat sangatlah penting karena akan dapat memurnikan dan membebaskan konsep tauhid dari bayangan syirik.

Dari ayat dan hadits di atas dapat diketahui bahwa beriman kepada malaikat merupakan perintah Allah dan menjadi salah satu syarat keimanan seseorang. Kita beriman kepada malaikat karena Al Qur’an dan Nabi memerintahkannya, sebagaimana kita beriman kepada Allah dan Nabi-Nya.

Pengertian Islam

Posted by ITTILA' On 05:12


Islam adalah agama Allah yang diturunkan sebagai panduan hidup manusia sejak zaman berzaman. Bermula dengan zaman Nabi Adam sehingga manusia terakhir dilahirkan. Islam sahaja suatu cara hidup yang sempurna dan sepatutnya menjadi pegangan setiap manusia. Agar mereka selamat di dunia dan sejahtera di akhirat yang berkekalan. Kehidupan di dunia ini (dengan segala isinya) hanyalah semata-mata menjadi tanda kewujudan kehidupan di akhirat.

Sekiranya diperhatikan di dunia ini, tidak suatu perkara pun yang diciptakan tanpa faedah. Sekiranya hasil ciptaan manusia pun ada faedah, masakan ciptaan manusia oleh Allah SWT adalah sia-sia sahaja? Adakah dikira berfaedah sekiranya ciptaan manusia hanya untuk menikmati kehidupan selama 50 sehingga 100 tahun sahaja? Dengan pelbagai halangan dan kesusahan, sakit dan kesakitan? Sedangkan kadar kesusahan manusia sekiranya hendak dibandingkan dengan kesusahan makhluk-makhluk lain adalah berlipat-lipat kali ganda. Susah yang manusia hadapi lagi banyak. Apakah ia sesuai dengan kejadian manusia? Apakah cukup faedah atau manfaat daripada ciptaan manusia?

Persoalan tersebut menjadikan kita faham kebenaran tentang wujudnya alam lain selain alam dunia. Dunia itu sendiri berasal daripada perkataan Arab yang bermaksud “kurang” atau “rendah”. Orang Arab menyatakan “Ad-Danwu minal Ardh” maksudnya “muka bumi yang bertanah rendah”. Alam lain yang dimaksudkan ialah suatu alam yang tiada penghujungnya dan penuh dengan nikmat-nikmat sesuai dengan manfaat kejadian manusia.

Sebagai contoh manusia ingin melihat lebih daripada 2 kilometer. Di dunia perkara tersebut tidak tercapai. Sekiranya kita berada di suatu negeri, mustahil mata kita dapat melihat keadaan (atau keindahan) yang ada dan berlaku di negeri yang lain. Kalau penglihatan pada waktu malam pula, maka ia lebih terbatas kepada jarak mungkin 200 meter sahaja. Ada juga manusia terpaksa menggunakan cermin mata hanya untuk membolehkannya membaca atau melihat objek sejauh 100 cm sahaja daripada dirinya. Malah lebih dekat.

Dengan wujudnya teknologi seperti internet dan satelit, tv dan video dan seumpamanya maka kita dapat juga hari ini melihat negeri luar walaupun pada masa tersebut kita berada di negeri kita sendiri. Kemampuan manusia hari ini mencipta alat (dengan izin dan idea juga daripada Allah) juga merupakan bantuan Allah agar umat kini lebih faham erti wujudnya alam akhirat yang mana penglihatan padanya tidak terbatas. Sehingga mata kita ini mampu melihat zat Allah juga. Yang ianya telah menjadikan gunung itu hancur setelah Nabi Ibrahim meminta agar Allah menjelma. Usahkan mata manusia di dunia. Gunung itu pun hancur berkecai. Itulah kelemahan dunia yang Allah akan cukupkan (gantikan) dengan kesempurnaan di akhirat.

Manakala Islam, ia adalah suatu tatacara, dustur, atau panduan hidup yang sempurna bagi manusia di dunia. Hal ini ditegaskan sendiri oleh Allah dalam al-Quran. Islam adalah agama dan cara hidup yang sempurna di dunia dan dengannya sahaja manusia akan menikmati kesempurnaan di akhirat.

Islam maksudnya “Istislam” iaitu menyerah diri kepada ketentuan Allah. Apa sahaja yang diperintahkan Allah daripada sekecil-kecilnya seperti menyucikan diri daripada najis (bab taharah) sehingga peraturan mewujudkan negara yang taat dan patuh kepada Allah dan syariatNya. Masakan kita dikira muslim (orang Islam) kalau kita masih boleh mengatakan ada perkara-perkara yang telah ditentukan oleh Allah itu sebagai perkara yang remeh temeh? berhak kah kita untuk itu. Adakah kita dengan perbuatan (kita hari ini) telah benar-benar menyerah diri kepada ketentuan Allah?

Janganlah kita jadi seperti kaum yahudi yang mana suatu ketika mereka meminta Allah menentukan suatu perkara kepada mereka. Setelah ketentuan Allah itu tiba maka mereka tanpa segan silu telah memungkirinya.

Marilah sama-sama kita semak semula iman kita, Islam kita dan tempat kita di sisi Allah SWT.. wallahu aklam.

PENGERTIAN AGAMA ISLAM

Posted by ITTILA' On 05:04


PENGERTIAN AGAMA ISLAM

PENDAHULUAN
Apabila disebut "Islam" kebanyakan orang memahami ia merujuk kepada suatu sistem kepercayaan dan amalan ibadah yang mempunyai ciri-ciri tertentu yang disebut "agama. " Sebenarnya pengertian ini tidak tepat kerana Islam bukanlah hanya sekadar sistem kepercayaan atau ibadah tertentu. Istilah yang seringkali diterjemahkan sebagai agama atau religion iaitu din sebenarnya tidak sama pengertiannya dengan "agama" atau religion.

PENGERTIAN AGAMA
Istilah agama berasal dari bahasa Sansekerita dan bererti warisan tertulis yang yang diturunkan dari generasi ke generasi. Istilah ini digunakan oleh orang Hindu untuk merujuk kepada kitab-kitab Vedik, iaitu kitab suci Hindu. Namun begitu, orang Islam di rantau Asia Tenggara yang berbahasa Melayu tidak memahami agama dalam erti Hindu ini (al-Atas, Farid, 2005:3).

Merujuk kepada Kamus Dewan, "agama bererti:
(i) Kepercayaan pada Tuhan dan sifat-sifat serta kekuasaan Tuhan dan penerimaan ajaran dan perintah-Nya
(u) Kepercayaan pada yang Maha Kuasa
(ui) Kepercayaan pada sesuatu dewa dan lain-lain yang dipuja dan sebagainya dan dianggap sebagai sesuatu yang amat berkuasa.

Religion seperti yang difahami di Barat, iaitu, sebagai suatu kepercayaan dan amalan, dianggap sebagai sebahagian daripada budaya dan tidak seharusnya merangkumi keseluruhan sesuatu budaya. Ini disebabkan oleh kenyataan bahawa agama Kristian (Nasrani) di Eropah telah sejak berkurun-kurun menjadi hanya sebahagian daripada kehidupan budaya dan sosial orang Eropah. Jadi, faham "agama" yang terkandung dalam istilah din tidak dapat disamakan dengan yang terkandung dalam istilah religion (al-Atas, Farid, 2005:3). Begitu juga jika masyarakat Melayu memahami "agama" sebagai hanya kepercayaan dan ibadah-ibadah tertentu ia tidak dapat disamakan dengan din.

PENGERTIAN ISLAM
Islam dari segi bahasa merupakan nama terbitan dari kata kerja salima yang boleh membawa maksud:
(i) ketulenan dan kesucian
(u) kedamaian, keamanan atau kesejahteraan
(ui) ketaatan dan penyerahan (Afif Abd al-Fattah Tabbarah, 1969:17).

Islam berbeza dari agama-agama lain yang ada di muka bumi ini kerana perkataan Islam tidak mempunyai hubungkait sama ada dengan individu-indidu tertentu, golongan atau tempat tertentu. Dari segi pemilihan nama, Islam merupakan nama istimewa yang diberikan oleh Allah s.w.t kepada Din-Nya. Al-Quran sebagai kalam Allah menyebut Islam sebagai al-lslam dan ia adalah ad- din (Abdullah Akhili, et. al, 1996:2).

Rasulullah s.a.w telah memberikan takrif yang berbagai tentang Islam menurut suasana majlis dan keadaan orang yang bertanya. Seterusnya para ulama memperjelaskan lagi dengan berbagai definisi yang dapat memberikan gambaran sebenar tentang Islam.

Antara definisi Islam dari sudut istilah yang diberikan oleh para ulama ialah:

(i) Pengakuan bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan pengakuan bahawa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan solat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan mengerjakan haji ke Baitullah sekiranya mampu.

Definisi ini berdasarkan jawapan Rasulullah s.a.w. apabila ditanya oleh jibril mengenai pengertian Islam.

"al-lslam itu ialah kamu bersaksi bahawa tiada Tuhan (yang berhak diabdikan diri sebenar-benarnya) melainkan Allah, dan (kamu bersaksi) sesungguhnya Muhammad itu Rasulullah, kamu mendirikan solat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan mengerjakan haji ke Baitullah sekiranya mampu. " (Sahih Muslim, hadith 1 ; hal. 1)

Sabda Rasulullah ini juga membawa maksud bahawa Islam adalah mentauhidkan Allah, tunduk, patuh, dan ikhlas kepada Allah serta beriman dengan dasac-dasar yang telah ditetapkan oleh-Nya.

(u) Kepatuhan, ketundukan, ketaatan dan penyerahan diri dengan penuh keikhlasan, dengan sukarela bukan secara terpaksa (Abd Karim Zaydan, 1979: 13) kepada Allah s.w.t. dalam seluruh aspek kehidupan. Merangkumi jasmani dan rohani, akal dan perasaan. Meliputi aspek aqidah, syariat dan akhlak.

Allah s.w.t. menyebut di dalam firman-Nya; Maksudnya : Patutkah sesudah (mengakui dan menerima perjanjian) itu mereka mencari selain dari din (agama) Allah, Pada hal kepada-Nyalah tunduk taat sekelian makhluk yang ada di langit dan di bumi; sama ada dengan sukarela atau pun terpaksa, dan kepada-Nyalah mereka dikembalikan. (ali-lmran: 83)

(ui) Islam merupakan jawapan kepada tiga persoalan penting yang dihadapi oleh manusia, iaitu : Dari mana manusia datang, mengapa manusia datang dan ke mana kesudahan manusia? (Abdul Karim Zaydan, 1979:10-11)

Hanya Islam mampu menjawab persoalan-persoalan ini dengan memberi jawapan yang menepati fitrah akal manusia. Antara jawapan kepada persoalan "dari mana manusia datang" ialah firman Allah s.w.t. : Maksudnya: Wahai umat manusia, sekiranya kamu menaruh syak (ragu-ragu) tentang kebangkitan makhluk (hidup semula pada nan kiamat), maka (perhatikanlah kepada tingkatan kejadian manusia) kerana sebenarnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dan setitik air benih, kemudian dari sebuku darah beku, kemudian dari seketui daging yang disempurnakan kejadiannya dan yang tidak disempurnakan kejadiannya. (al-Haj:5)

(iv) Islam ialah ruh yang hakiki, cahaya petunjuk yang abadi dalam kehidupan, ubat yang paling mujarab bagi penyakit dan jafan lurus yang selamat bagi manusia yang melaluinya (Abdul Karim Zaydan, 1979: 10). Firman Allah s.w.t. : Dan Kami turunkan daripada al-Quran sesuatu yang menjadi ubat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (al-lsra:82)

Firman Allah s.w.t. : Maksudnya; Dan sesiapa yang berserah din sepenuhnya kepada Allah (dengan ikhlas) serta dia berusaha mengerjakan kebaikan, sesungguhnya dia telah berpegang kepada simpulan tali yang kukuh. (Luqman :22)

(v) Peraturan hidup {way of life) yang bersifat integral yang mengatur hidup dan kehidupan manusia dan menjadi dasar akhlak mulia serta disampaikan oleh nabi Muhammad s.a.w. untuk menjadi panduan seluruh umat manusia.

ISLAM SEBAGA1 AD-DIN
Perkataan din merupakan istilah khusus dalam al-Quran yang bermaksud sistem hidup, cara hidup, peraturan atau perundangan hidup. Islam sebagai ad-din membawa maksud Islam adalah satu-satunya sistem hidup atau peraturan yang diturunkan oleh Allah s.w.t untuk menjadi panduan umat manusia. Islam merupakan satu-satunya din yang diredai Allah s.w.t yang memandu manusia ke arah kesejahteraan dan keredaan hidup di dunia dan kenikmatan hidup di akhirat. . Sebagai ad-din yang dicipta oleh Allah s.w.t, Islam adalah berbeza dengan agama-agama ciptaan manusia.

jelas daripada pengectian-pengertian di atas bahawa Islam yang diwahyukan oleh Allah s.w.t kepada Rasul-Nya s.a.w. tidak wajar disamakan dengan pengertian agama menurut perspektif umum. Islam merupakan ad-din Samawi yang menepati fitrah manusia, merangkumi semua aspek hidup yang menyentuh persoalan dunia dan akhirat, kebendaan (material) dan kerohanian (spiritual), individu dan masyarakat, rumahtangga dan negara, pemimpin dan rakyat, dan segala yang memenuhi ruang lingkup kehidupan manusia.

Perkataan ad-Din itu sendiri pada hakikatnya lebih luas maksud dan skop atau ruang lingkupnya daripada agama. Perkataan din apabila dilihat sebagai istilah yang khusus dalam al-Quran mencakupi seluruh aspek kehidupan manusia di dunia dan akhirat. la merupakan suatu istilah yang mengandungi empat elemen penting:

(i) Kekuasaan yang Maha Mutlak (Allah s.w.t)
(ii) Penyerahan diri lahir dan batin disertai dengan ketaatan dan kesetiaan kepada kekuasaan yang Maha Mutlak
(iii) Iman dan amalan di bawah pengawasan pihak yang Maha Mutlak kekuasaannya
(iv) Ganjaran yang diberi sama ada yang baik atau buruk dari pihak yang Maha Berkuasa.

Allah s.w.t juga telah menegaskan bahawa agama-agama yang wujud di dunia ini selain daripada Islam tidak akan mendapat tempat di sisi Allah. Sesiapa yang menganut atau mempercayai selain Islam maka dia adalah iergolong dalam kalangan orang-orang yang rugi dan di akhirat nanti akan mendapat balasan yang amat buruk.

Firman Allah s.w.t yang bermaksud:
"Sesiapa yang mencari din (agama) selain daripada din (agama) Islam maka dia termasuk dalam golongan mereka yang rugi di akhirat nanti" (Surah Ali-lmran ayat: 85)

Islam sebagai ad-din merupakan sistem hidup yang selari dengan fitrah semula jadi manusia di mana setiap insan yang dilahirkan di muka bumi ini telah mengakui Allah s.w.t sebagai Tuhan yang berhak di sembah sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah s.a.w:

"Setiap anak yang dilahirkan adalah suci (iaitu dalam keadaan Islam, menyerah diri kepada Allah s.w.t). Maka kedua ibubapanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. "

Isiam merupakan sistem hidup yang sempurna yang diciptakan oleh Allah s.w.t. Islam menyeru manusia mengenali Allah s.w.t Tuhan Yang Maha Perkasa, Allah s.w.t yang berhak disembah. Islam mengajak manusia beribadat kepada-Nya, membesarkan Allah s.w.t, memuji dan mengagongkan Allah s.w.t kerana Allah s.w.t jualah yang mentadbir hidup manusia. Allah s.w.t adaiah Rabb dan Allah s.w.t juga adalah llah, dan Allah s.w.t jualah yang meredai Islam sebagai cara hidup manusia.

Islam bukan sahaja dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w bahkan semua Nabi dan Rasul semenjak Nabi Adam a. s hinggalah Nabi Muhammad s.a.w. Para Rasul mendakwah manusia kepada Islam, menerangkan kepada manusia aqidah yang benar, meletakkan syariat yang sesuai dan mengajar manusia berakhlak mulia daiam kehidupan.

Setiap manusia yang mengaku muslim, wajib mempunyai aqidah yang benar, iaitu percaya dan yakin Allah s.w.t Tuhan yang sebenar-benar disembah. AUah s.w.t Tuhan yang mentadbir alam, memberi rezeki kepada manusia dan mempunyai segala sifat kesempurnaan. Islam juga menyeru manusia supaya beramal dengan segala peraturan Islam dan berakhlak dengan akhlak Islam. Ini adalah bagi meletakkan manusia dalam rahmat dan hidayah Allah s.w.t.

Allah telah memberi pengakuan bahawa Islam adalah din yang diredai- Nya dan amat sesuai dijadikan panduan dan ikutan kepada manusia. Islam adalah berbeza dengan agama-agama ciptaan manusia. Islam merupakan al-Din iaitu suatu cara hidup manusia. Apabila Islam dinobatkan sebagai cara hidup manusia ini bermakna melalui Islam, Allah s.w.t telah meletakkan garis panduan dan peraturan hidup dalam memandu kehidupan manusia. Justeru itu Islam perlu dijadikan panduan dalam seluruh aspek kehidupan.

Apa sahaja budaya atau cara hidup yang tidak diakui oleh Islam maka ia adalah cara hidup yang batil dan tidak boleh menjamin kesejahteraan manusia di dunia dan akhirat. Begitu juga dengan adat-adat yang diguna pakai oleh sebilangan masyarakat hari ini. Sekiranya adat-adat yang diamalkan sejak zaman nenek moyang itu menyeleweng dari landasan Islam maka adat-adat tersebut tidak boleh diamalkan dan dilarang oleh Islam.

Setiap muslim mestilah hidup berlandaskan sistem hidup Islam. Masyarakat yang tidak meletakkan Islam sebagai cara hidup pastinya akan kucar kacir, porak poranda, terjerumus dalam kehancuran dan gagal memperolehi kejayaan dan kesejahteraan. Oleh yang demikian sebagai muslim mukmin hanya Islamlah cara hidup yang sesuai.

Allah s.w.t telah menegaskan bahawa Dia telah sempurnakan kepada umat manusia Islam sebagai cara hidup. Firman-Nya yang bermaksud: "Hari ini Aku telah sempurnakan bags kamu agama kamu iaitu Islam dan Aku kurniakan nikmat kepada kamu dan Aku reda Islam itu agama kamu. " (Surah al-Maidah ayat: 3)

SKOP AJARAN ISLAM

AQIDAH

Menerima Islam sebagai ad-din bererti berpegang teguh kepada aqidah yang benar yang menjadi teras dalam kedudukan Islam sebagai suatu binaan yang kukuh.

Perkataan aqidah merupakan perkataan bahasa Arab yang bererti ikatan atau simpulan. Menurut istilah aqidah difahami sebagai kepercayaan yang terikat erat dan tersimpul kuat dalam jiwa. Aqidah Islam merupakan kepercayaan atau keimanan kepada hakikat dan nilai-nilai yang mutlak, yang tetap dan kukuh, yang pasti dan hakiki lagi kudus dan suci (Mohd. Sulaiman Yasin. 1984: 197) seperti yang terdapat dalam ajaran Islam.

Nilai-nilai mutlak yang dimaksudkan ialah keimanan dan keyakinan kepada perkara-perkara ghaibiyyat yang berpaksikan keyakinan terhadap Allah s.w.t yang Esa. Esa dan sudut Uluhiyyah dan Rububiyyah-Nya serta esa pada al- Asma dan as-Sifat. Terdapat enam elemen yang menjadi asas aqidah Islam :
(i) Keimanan kepada Allah s.w.t sebagai yang Maha Mutlak kekuasaanya di mana setiap muslim perlu yakin dan menyerah diri hanya kepada-Nya.
(ii) Keimanan kepada malaikat yang merupakan makhluk mulia yang dijadikan Allah s.w.t sebagai lambang keagongan dan kehebatan kekuasaan-Nya.
(iii) Keimanan kepada Kitab yang ditucunkan oleh Allah s.w.t dengan menjadikannya panduan dalam berbagai aspek kehidupan.
(iv) Keimanan kepada para Rasul yang diutuskan oleh Allah sebagai utusan yang menyampaikan risalah Allah s.w.t.
(v) Keimanan tentang kewujudan hari Akhirat sebagai matlamat akhir kehidupan.
(vi) Keimanan kepada Qada dan Qadar sebagai hak mutlak Allah s.w.t.

Sebelum kedatangan Islam, masyarakat meraba-raba mencari tuhan. Ada yang menyembah berhala, pokok, matahari, sungai, manusia dan sebagainya. Ada juga manusia yang mengaku menjadi tuhan seperti Firaun dan Haman. Cara beribadat juga berbagai-bagai dan semuanya batil. Ada yang langsung tiada agama. Berhala yang disembah bermacam-macam keadaan dan bentuk serta merupakan hasil ciptaan dan buatan mereka sendiri. Namun, tidak ada di


kalangan Tuhan yang mereka sembah itu yang dapat memberikan apa-apa kebaikan atau kemudaratan. . . . Kenyataan ini memberikan gambaran bahawa beraqidah adalah fitrah semulajadi manusia dan Allah s.w.t sahaja yang mampu memenuhi kehendak fitrah makhluk-Nya.


SYARIAT
Syariat berupa hukum-hukum perundangan yang bertujuan mengatur kehidupan individu, keluarga, masyarakat dan negara; sama ada berupa hukum-hukum yang berkaitan dengan Taharah, solat, zakat, puasa, dan haji. Berkaitan dengan muamalat dalam urusan-urusan peribadi seperti munakahat (perkahwinan), warathah (perwarisan) dan juga yang berkaitan dengan urusan am seperti at- Tijarah (perniagaan), al-jinayah (jenayah), al-lmarah atau al-khilafah (pemerintahan), perhubungan antarabangsa dan lain-lain.

Syariat dalam Islam sentiasa berkembang dari semasa ke semasa. la bersumberkan empat perkara, iaitu: al-Quran, al-Hadith, , Ijmak ulama dan Qiyas. Hak menentukan hukum adalah Allah s.w.t dan Rasul-Nya s.a.w sementara ulama dibenarkan berijtihad dalam perkara-perkara yang tidak dinaskan oleh al-Quran dan al-Hadith secara jelas. Islam melarang keras terhadap sesiapa yang cuba merampas hak Allah s.w.t dalam menentukan hukum.

Allah s.w.t mengutuskan Rasulullah s.a.w dengan bimbingan al-Quran untuk menjadi panduan hidup manusia di mana Allah s.w.t tidak menzalimi manusia dan makhluk-Nya tetapi manusia sendiri yang menzalimi diri sendiri. Peraturan dan perundangan Islam adalah seimbang dan mudah dalam semua perkara. Islam telah menyediakan berbagai kemudahan dan pilihan dalam menyelesaikan segala masaiah.


AKHLAK
Akhlak merupakan perkataan bahasa Arab yang bererti tingkahlaku, perangai atau keperibadian. Menurut al-Ghazali, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang yang dengannya lahir sesuatu perbuatan atau tingkahlaku. Perbuatan atau tingkahlaku tersebut terjadi dengan spontan hasil dari pancaran rohani.

Islam datang untuk membetulkan keadaan akhlak manusia. Rasulullah s.a.w. diutuskan untuk menyeru manusia membuang segala sifat kemungkaran yang berpunca daripada nafsu yang jahat dan godaan syaitan kepada sifat dan akhlak yang terpuji dan dipandang mulia oleh Allah s.w.t.

Sabda baginda s.a.w bermaksud : "Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempumakan akhlak yang mulia" (riwayat Imam Malik)

Islam datang untuk menyucikan hati-hati manusia, menanam benih-benih nur iman dan hidayah. Kalau dahulu sebelum datangnya Islam, masyarakat hidup porak peranda. Kekuatan fizikal dan kabilah menjadi asas kepada penguasaan terhadap kaum yang lain. Manusia hidup dalam kesesatan yang nyata, boleh dikatakan sama dengan haiwan malah lebih teruk daripada haiwan. Ini berdasarkan firman Allah s.w.t

"Dan Rasulullah s.a.w. menyucikan mereka dan mengajar mereka al-Quran serta hikmatyang selama ini mereka dalam kesesatan". (Surah Ali Imran ayat: 164)

Dalam hubungan sosial, Islam meletakkan asas-asas kukuh dalam pergaulan hidup manusia seharian. Batasan-batasan pergaulan antara lelaki dengan perempuan telah digariskan oleh Islam agar manusia tidak melakukan dosa dan melanggar syariat hukum Allah s.w.t.

Sudah jelas kepada kita. sekiranya pergaulan hidup kita dipengaruhi oleh budaya dan cara hidup yang bertentangan dengan Islam contohnya cara hidup barat yang sesat pasti masyarakat yang mengikutnya menjadi seperti mereka yang dukuti baik cara berpakaian, cara bercakap, adab dan tingkahlaku, muamalat dan seumpamanya.

inilah yang terjadi kepada generasi kita hari ini yang terpengaruh dengan cara hidup barat yang liar yang tidak diharuskan oleh Islam. Masalah gejala sosial seperti zina, bohsia, budaya lepak, anak luar nikah, masalah dadah, arak, judi dan sebagainya adalah berpunca daripada sikap tidak ingin menjadikan Islam sebagai cara hidup serta tiada bimbingan menurut cara hidup Islam.

Masyarakat Madinah yang diasaskan oleh baginda Rasulullah s.a.w. menjadi contoh masyarakat yang tinggi dan mulia akhlaknya. Mereka hidup dalam lingkungan roh Islam dan menjadikan Islam cara hidup. Kehidupan mereka aman damai dan mendapat perlindungan Allah s.w.t. Tidak wujud perkara-perkara yang menyalahi peraturan Islam. Sekiranya terdapat perkara yang mungkar terus ditegah dan dijatuhkan hukuman dengan tujuan mendapat keredaan dan keampunan Allah s.w.t di akhirat kelak.

Firman Allah s.w.t " Dan di antara mereka ada yang berkata, Wahai Tuahanku kurniakanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan lindungilah kami dari siksaan api neraka. (Surah al- Baqarah ayat:201)

Masyarakat yang hidup tanpa panduan akhlak Islam tiada nilai-nilai murni, tiada kesejahteraan hidup, tiada jaminan untuk mengecap kebahagian, hidup dalam ketakutan, hum hara, maksiat berleluasa dan sebagainya. Golongan kaya

berkuasa, yang miskin dijadikan hamba abdi, yang kuat menindas yang lemah, yang berkuasa melakukan kejahatan dibiarkan tetapi yang miskin melakukan kejahatan disiksa. Tidak ada panduan hidup yang hakiki dan setiap puak ada undang-undang tersendiri yang boleh dipinda-pinda mengikut hawa nafsu mereka.

Islam mengatur hidup manusia dengan penuh bijaksana dan penuh keadilan, mengajar manusia nilai-nilai mulia, mengharamkan penindasan, haramkan maksiat, haramkan syirik kepada Allah s.w.t, menyarankan hidup bersatu padu. tolong menolong dan mewujudkan masyarakat madani yang murni yang mendapat hidayah Allah s.w.t. Dan adalah menjadi matlamat utama Ipengutusan Rasulullah s.a.w agar manusia berakhlak mulia denga nilai-nilai akhlak mahmudah dan meninggalkan sifat-sifat mazmumah. Sabda Rasulullah s.a.w:

"Sesungguhnaya aku diutuskan adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia. "

Islam adalah sistem hidup yang mempunyai pertalian di antara Pencipta dengan makhluk dan juga pertalian antara sesama makhluk. Islam yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w adalah ciptaan Allah s.w.t yang mencipta manusia dan makhluk yang lain. Oleh yang demikian ajaran Islam mengajak manusia beriman kepada Allah s.w.t. sebagai Pencipta Yang Maha Mutlak. Hanya Allah s.w.t Tuhan yang berhak disembah. Islam menyeru manusia mengenali Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Esa, Maha Bijaksana dan mengabdikan seluruh jiwa dan aspek hidup manusia kepada Allah s.w.t. Firman Allah s.w.t:

"Dan tidak aku jadikan jin dan manusia kecuali untuk beribadat kepada Ku. " (Surah al-Zariyat ayat: 56)

Apabila Allah s.w.t mencipta manusia sudah pasti yang menciptakan manusia itu tinggi kuasa-Nya daripada makhluk. Sebagai makhluk sememangnya manusia bersifat lemah dan sentiasa memerlukan hidayah, bimbingan dan pertolongan Allah s.w.t. Manusia juga sebenarnya yakin dan percaya tanpa ragu-ragu lagi bahawa Allah s.w.t yang mengatur kehidupan, memberi rezeki, mentadbir alam dan segala-galanya milik mutlak-Nya. Firman Allah s.w.t:

"Hanya Engkau jualah ya Allah yang kami sembah dan Engkau jualah ya Allah tempat kami memohon pertolongan. " (Surah al-Fatihah ayat:5)

Selain hubungan manusia dengan Allah s.w.t, Islam juga menggariskan peraturan hidup sesama manusia dalam rumahtangga, masyarakat dan negara. Islam bukan agama individu atau sekumpulan manusia. bahkan Islam adalah peraturan hidup untuk semua manusia. Untuk sesama manusia Islam mewujudkan sistem hidup yang praktikal di mana Islam meminta umatnya mengenali sesama sendiri. eratkan hubungan silaturrahim, lahirkan kasih sayang, menyeru ke arah kebaikan dan mencegah kemungkaran sebagaimana firman- Nya:

"Kamu adalah sebaik-baik umat yang diutuskan, menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah S.W.T. " (Surah ali-lmran ay at: 110)

Sabda Rasulullah s.a.w: " Tidak sempurna iman seserang kamu sehingga ia mengasihi saudaranya sebagaimana ia kasih dirinya. "

Daripada firman Allah s.w.t. dan hadith Rasulullah s.a.w. di atas, dapat difahami bahawa umat Islam itu bersaudara dan terdapat hak serta tanggungjawab sesama sendiri. Ini adalah kerana Islam mahu semua umatnya beriman kepada Allah s.w.t Tuhan yang berhak disembah. Ini dapat dibuktikan oleh Rasulullah s.a.w yang berusaha menyampaikan cara hidup Islam kepada manusia agar manusia tidak berada dalam kekufuran dan kejahilan. Apabila seseorang itu beriman kepada Allah s.w.t sudah pasti dia tidak ingin melihat

saudaranya yang lain teraba-raba dalam kesesatan dan keindahan rahmat Allah s.w.t di dunia dan lebih-lebih lagi di akhirat dapat sama-sama dinikmati.

Dalam apa sahaja aspek kehidupan manusia, Islam tidak membebankan kemampuan manusia malah apa yang disyariatkan adalah untuk memberi kesenangan dan kemudahan kepada manusia dan mendapat keredaan Allah s.w.t. Tegahan yang terdapat dalam ajaran Islam adalah semata-mata untuk mencegah keburukan dan kemudaratan. Misalnya Islam mengharamkan riba, judi, zina dan seumpamanya kerana perbuatan tersebut mendatangkan keburukan kepada keturunan manusia, tingkahlaku manusia dan hubungan sesama manusia.

PENUTUP
Penaklukan dan penguasaan penjajah-penjajah Barat ke atas watan umat Islam telah menimbulkan fenomena baru kepada umat Islam dalam menanggapi persoalan ad-Din yang mereka anuti, iaitu Islam. Pengetahuan dan ajaran hasil pengaruh pemikiran umat Kristian yang memisahkan antara agama dengan dunia telah memberi kesan yang amat dahsyat ke atas aqidah dan pemikiran umat Islam kini (Nik Mohd Rosdi, 1995:1).

Antara fenomena yang dapat dilihat:
(i) Kemunculan peribadi-peribadi yang bernama Islam dan mengaku muslim tetapi cara berpakaian, cara makan dan minum, cara bercakap, cara berjalan, cara bergaul, dan sebagainya tidak melambangkan Islam.
(u) Budaya Barat dipuja sedangkan sunnah Rasulullah s.a.w diketepikan.
(ui) Amalan ibadah difahami hanya dalam skop yang sempit.
(iv) Melakukan ibadah khusus seperti puasa dan haji sedangkan dalam masa yang sama mengamalkan riba dan rasuah dalam urusan ekonomi, politik dan sebagainya.
(v) Wujudnya jurang perbezaan antara golongan agama dengan golongan profesional.
(vi) Ramai di kalangan masyarakat hari ini menghadapi krisis yang hebat mengenai agama. Apakah agama merupakan salah satu dari kenyataan hidup ? Apakah agama merupakan satu keperluan manusia? Atau agama hanya merupakan satu kecenderungan peribadi semata-mata dengan erti kata siapa suka boleh beragama dan siapa tidak suka boleh boleh jadi atheis kerana kedua-dua pendirian itu sama sahaja?(Muhammad Qutb: 1978: 3).

Kesimpulannya, gejala keruntuhan aqidah dan akhlak seperti di atas adalah berpunca daripada ketidak fahaman umat Islam terhadap pengertian Islam itu sendiri. Oleh itu wajarlah pengertian Islam sebagai ad-din difahami dengan pengertian yang sebenarnya dan akhirnya maruah Islam dan umatnya dapat kembali dipertahankan.